Pernikahan, adalah momen penting bagi setiap orang. Termasuk juga bagiku. Setelah sekian lama, aku berharap kejadian sakral itu segera terjadi dalam hidupku. Aku benar- benar ingin menikah, tapi... Aku belum bisa memantaskan diriku dengan keikhlasan karena Allah, untuk sebuah pengabdian kepada seorang laki- laki. Ya, laki- laki yang nantinya akan menjadi suamiku. Semua karena masih besarnya egoku, dan susahnya diriku, bahkan untuk sekedar menyenangkan orang lain. Yang ada malah, aku ingin selalu dimanjakan dan disenangkan. Tak ada istilah kemakluman bagiku atas diri orang lain. Karena itu sungguh sangatlah sulit untuk ku lakukan. Tidak ada istilah `kita` dalam hidupku, yang ada adalah, kamu dan aku. Aku ingin menikah, tapi... aku belum bisa dan belum terbiasa untuk berbagi. Bagiku, semua milikku adalah milikku, dan menurutku orang lainpun harus berusaha sendiri untuk mendapatkan sesuatu yang kemudian akan menjadi milik mereka. Aku ingin menikah, ta...
Sayang.. aku sedang mempersiapkan diri menata hati supaya kelak menjadi yang terindah bagimu belajar pada Siti Hajar yang dengan sabar dan tanpa mengeluh menghadapi segala coba yang Allah berikan, belajar pada Siti Khadijah yang setia dan tanpa lelah menemani Rasulullah dalam perjuangannya, belajar pada Sembadra yang setia menunggui Arjuna, belajar pada Raihana yang tak lelah mencintai dan memberi ketulusan pada suaminya dan belajar pada istri-istri teladan yang lain yang suatu saat akan aku tanamkan pada diriku Sayang.. aku akan simpan kesucian cintaku untukmu untuk engkau yang nanti akan memberi cinta dan ketulusan serta perlindungan padaku untuk engkau yang telah Allah gariskan menjadi bagian utama yang akan terpasangkan olehku karena aku potongan tulang rusukmu Sayang.. aku selalu berdo'a sehingga nanti aku menjadi istri sholehah yang setia dan dengan tulus mengabdikan hidupku untukmu karena-Nya Sayang.. jemput ...